RAKYATMAJALENGKA.COM – Kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Heuleut di Kabupaten Majalengka kini menjadi sorotan seiring dengan terus bertambahnya volume buangan dari masyarakat.
Saat ini, gundukan limbah di lokasi tersebut dilaporkan telah mencapai ketinggian yang bervariasi antara 4 hingga 8 meter.
Walaupun tumpukan terlihat menjulang, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Majalengka memberikan jaminan bahwa struktur gunungan tersebut masih dalam kategori aman dan jauh dari risiko longsor yang membahayakan.
Baca Juga:Bupati Ajak Masyarakat Berhemat Warga Serbu Bazar Peduli Ramadan PKK
Kepala DLH Kabupaten Majalengka, Wawan Sarwanto memaparkan data bahwa setiap harinya TPA Heuleut harus menampung kiriman sampah yang masif.
Estimasi volume harian mencapai 250 meter kubik, atau setara dengan beban berat sekitar 100 ton sampah yang berasal dari berbagai penjuru wilayah Majalengka.
Untuk menyikapi keterbatasan ruang, pemerintah daerah telah menyusun langkah strategis. Saat ini, TPA Heuleut beroperasi di atas lahan seluas 7,5 hektare.
Mengingat tren volume sampah yang terus meningkat, pemerintah berencana melakukan ekspansi area melalui pembebasan lahan seluas 4 hektare. Langkah ini dianggap krusial demi memperpanjang masa pakai operasional TPA serta memastikan daya tampung tetap tersedia untuk beberapa tahun ke depan.
Menariknya, pengelolaan sampah di TPA Heuleut kini mulai bergeser dari sekadar tempat pembuangan menjadi area yang lebih tertata. Wawan menjelaskan bahwa pihaknya kini menerapkan metode control landfill sederhana. Teknik tersebut melibatkan proses pemerataan gundukan sampah yang kemudian dilapisi dengan tanah urukan.
“Pada tahun 2025, sebagian zona sudah kami terapkan sistem landfill. Sampah yang tadinya menggunung secara acak kini diratakan dan ditutupi tanah agar lebih rapi, meskipun pelaksanaannya baru mencakup sebagian area,” jelas Wawan.
Upaya itu dijadwalkan akan terus berlanjut secara masif pada tahun 2026. Fokus utamanya adalah menghindari sistem open dumping (pembuangan terbuka), sebuah metode konvensional yang sering kali memicu masalah lingkungan serius seperti bau tak sedap, pencemaran air tanah, hingga risiko kebakaran dan longsor.
Baca Juga:Pemuda Panjalin Lor Tetap Menolak Lokasi KDMPDugaan Korupsi Dana Hibah Tahun 2024 dan 2025, Kejari Geledah Kantor KONI
Keberadaan TPA Heuleut juga menciptakan ekosistem ekonomi mikro. Setidaknya terdapat sekitar 20 orang pemulung yang menggantungkan hidup dengan beraktivitas di lokasi tersebut setiap harinya.
Kehadiran mereka secara tidak langsung membantu proses pemilahan sampah yang masih memiliki nilai ekonomis, sehingga mengurangi volume limbah yang terkubur.
