13 Santri Jajaki Kerja Sama di Tiongkok

Santri Jajaki Kerja Sama di Tiongkok
PENGALAMAN - 13 perwakilan pesantren dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti program penjajakan kerja sama internasional, ke Chongqing Tiongkok, 19–26 April 2026. FOTO: ISTIMEWA/RAKYAT CIREBON
0 Komentar

RAKYATMAJALENGKA.COM – Pondok pesantren di Indonesia semakin menunjukkan eksistensinya di kancah internasional. Sebagai langkah konkret menuju modernisasi dan globalisasi, sebanyak 13 delegasi terpilih yang mewakili berbagai lembaga pesantren terkemuka dari seluruh tanah air melakukan kunjungan studi ke Kota Chongqing, Tiongkok.

Program yang berlangsung 19-26 April 2026 ini dirancang untuk melakukan penjajakan kerja sama lintas negara di sektor pendidikan, penguasaan teknologi, hingga pertukaran budaya.

Zaenal Muhyiddin, perwakilan dari Pondok Pesantren Al Mizan Majalengka mengungkapkan bahwa misi ini merupakan tonggak strategis dalam membuka cakrawala baru bagi institusi pendidikan Islam tradisional Indonesia.

Baca Juga:KPU Sosialisasi Lanjutan ke Pemilih Pemula Uu Dorong Fajar Maju di Pilkada 2026

Menurutnya, pesantren tidak boleh lagi hanya berfokus pada skala lokal, tetapi harus mampu menyerap kemajuan global demi mencetak santri yang kompetitif.

“Agenda utama kami di Chongqing adalah menjajaki potensi kemitraan yang berkelanjutan di bidang pendidikan, adopsi teknologi terkini, serta penguatan pemahaman budaya. Ini adalah peluang emas yang harus dimaksimalkan agar pesantren di tanah air bisa tumbuh lebih progresif, inklusif, dan diakui secara internasional,” ujar Zaenal.

Program internasional ini sebenarnya merupakan buah dari perencanaan matang yang telah diinisiasi sejak Oktober 2025 lalu. Meski sempat mengalami penyesuaian jadwal akibat berbagai faktor teknis, koordinasi intensif akhirnya membuahkan hasil dengan terlaksananya keberangkatan pada April 2026 ini.

Kerja sama yang bernaung di bawah payung FPTP-Hezuo ini pun tidak hanya terbatas pada kunjungan fisik; para pengelola pesantren saat ini juga sedang mendalami kursus Bahasa Mandarin secara daring untuk mempermudah komunikasi dan kolaborasi ke depan.

Di sektor pendidikan, Zaenal melihat adanya celah besar bagi para santri untuk melanjutkan jenjang studi tinggi di universitas-universitas ternama di Chongqing.

Peluang tersebut mencakup skema beasiswa penuh maupun pembiayaan mandiri, yang diharapkan dapat menjadi jalan pintas bagi para santri untuk mendapatkan pengalaman akademik di luar negeri.

Tidak hanya soal bangku kuliah, delegasi Indonesia juga dijadwalkan untuk melakukan studi banding ke sejumlah pusat industri teknologi maju, terutama yang bergerak di bidang manufaktur alat-alat pertanian.

Baca Juga:Hindari Kenaikan Harga, Pesan Lebih Awal! DKP3 Awasi distribusi Hewan KurbanJAF Menjaga Ekologi dan Kesenian Tanah Liat

Mitra strategis dalam kerja sama ini adalah Dongxueji, sebuah lembaga pendidikan berbasis asrama di Tiongkok. Pemilihan Dongxueji didasarkan pada kesamaan sistem operasionalnya dengan model pesantren, di mana siswa belajar dan menetap di lingkungan asrama, sehingga diharapkan proses adaptasi kurikulum dan manajemen nantinya dapat berjalan lebih selaras.

0 Komentar