RAKYATMAJALENGKA.COM – Selain di Kecamatan Cikijing, musibah angin kencang juga terjadi di Kecamatan Sindangwangi. Dimana di kecamatan tersebut, angin menyerang 10 desa. Beruntung tidak ada kerusakan yang menimpa pemukiman warga, hanya saja sejumlah pohon dan beberapa fasilitas seperti awning warung dan lainnya rusak diterpa angin.
Camat Sindangwangi Fazri Pria Perdana SH mengatakan, pihaknya terus melakukan mitigasi bencana. Salah satunya dengan meningkatkan koordinasi dengan pemerintahan desa termasuk dengan para kepala dusun (kadus), serta RT dan RW di desa masing-masing.
Semua kejadian harus dilaporkan ke seksi trantibum, yang kemudian akan ditindaklanjuti dan diteruskan ke tingkat kabupaten agar bisa segera mendapatkan penanganan.
Baca Juga:Kapolda Jawa Barat Pantau Arus Balik, 21 Ribu Kendaraan Padati Tol CipaliAlun-Alun Lokasi Wisata Dadakan
“Untuk langkah antisipasi mengingat curah hujan yang masih tinggi, kami juga membentuk piket bencana setiap hari yang dilakukan oleh setiap desa dan kecamatan yang akan dibantu oleh praja bimas dari Pol PP yang akan terus memonitoring semua perkembangan di setiap desa,” ujarnya.
Dari 10 desa yang ada di wilayahnya, terdapat beberapa desa yang masuk dalam kategori rawan bencana khususnya pergerakan tanah. Diantaranya Jerukleueut, Padaherang, Bantaragung serta Sindangwangi.
Pihaknya meminta agar semua warga tetap meningkatkan kewaspadaan dini terutama di daerah dataran tinggi, sebab dengan curah hujan yang tinggi potensi bencana berupa banjir, pergerakan tanah hingga angin kencang perlu diwaspadai.
“Karena geografi di wilayah kami ini ada beberapa desa yang berada di dataran tinggi dan perbukitan, sehingga kewaspadaan dini harus terus ditingkatkan,” terangnya.
Sementara Andi Sumantri, salah seorang anggota Satkorlak Bencana Kecamatan Sindangwangi menambahkan, jika di wilayahnya tersebut masuk dalam salah satu kecamatan yang rawan bencana, terutama pergerakan tanah, longsor, banjir dan angin kencang.
Namun sejauh ini potensi bencana yang terjadi cukup ringan, berbeda dengan beberapa puluh tahun lalu yang sempat terjadi pergerakan tanah seperti yang terjadi di Desa Jerukleueut yang menyebabkan puluhan rumah warga ambruk. Oleh karena itu, pihaknya mengaku tetap meningkatkan kewaspadaan dini, guna mengantisipasi potensi potensi bencana besar yang mungkin terjadi.
